PENDIDIKAN SCIENCE, TECHNOLOGY, ENGINEERING, MATHEMATICS (STEM) SOLUSI PENDIDIKAN INDONESIA DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 | Alim Mustofa
Cari Berita

Advertisement

PENDIDIKAN SCIENCE, TECHNOLOGY, ENGINEERING, MATHEMATICS (STEM) SOLUSI PENDIDIKAN INDONESIA DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Kamis, 10 Oktober 2019



 Malangguide.com - Pembukaan undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Bicara tentang pemerataan pendidikan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang disampaikan pada tanggal 16 Agustus 2017 menyatakan bahwa target dalam pemerataan pendidikan bukan hanya sekedar pemerataan akses, tetapi pemerataan akses yang berkualitas. Bonus demografi Indonesia mempunyai perbandingan antara usia produktif dan non-produktif. Usia produktif ada sekitar 180 juta jiwa dan usia non-produktif ada sekitar 60 juta jiwa. Ini artinya 100 orang produktif hanya akan menanggung beban 44 orang non-produktif. Saat bonus demografi terjadi, Indonesia punya kesempatan besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Negara yang berhasil memanfaatkan bonus demografi adalah Jepang pada tahun 1950, Korea pada tahun 1970, dan Tiongkok pada tahun 1990.

Untuk memanfaatkan bonus demografi, Indonesia harus mampu meningkatkan sumber daya manusia yang masuk dalam usia produktif. Akan tetapi, Indonesia mempunyai tantangan yang besar dari sektor pendidikan. Padahal sektor pendidikan merupakan sektor pendukung terbesar dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia. Pada sektor pendidikan, Indonesia mempunyai tantangan dari segi mutu pendidikan, akses pendidikan, dan infrastruktur pendidikan. Dari segi mutu pendidikan, hasil belajar peserta didik Indonesia–seperti ditunjukkan hasil PISA, TIMMS, dan UN masih kurang dan tidak ada peningkatan yang signifikan selama 10 terakhir. Dari segi akses pendidikan, masih terdapat anak usia sekolah yang tidak sekolah terutama pada jenjang pendidikan menengah. Dari segi infrastruktur, kondisi infrastruktur sekolah belum sepenuhnya baik, masih terdapat sekolah yang mengalami rusak berat.

Berdasarkan rencana strategis tahun 2020 sampai dengan 2024, kementerian pendidikan dan kebudayaan mempunyai visi terbentuknya Sumber Daya Manusia Indonesia sebagai insan yang berkarakter dan sebagai sumber daya pembangunan yang produktif. Untuk mencapai visi tersebut, kementerian merencanakan untuk melakukan pemerataan pendidikan yang berkualitas. Salah satu rencana pemerataan pendidikan yang berkualitas melalui pendidikan berbasis STEM (science, technology, engineering, and mathematics).

Sejak awal abad ke-21, bidang matematika dan sains menjadi perhatian publik pendidikan di Amerika Serikat. Baru-baru ini, penekanannya pada pendidikan science, technology, engineering, and mathematics, yang dikenal dengan sebutan STEM. Pendidikan STEM akan membantu peserta didik mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan untuk bersaing menghadapi pasar global. STEM merupakan reformasi pendidikan yang terindikasi telah berkembang menjadi salah satu fokus kebijakan pendidikan yang utama pada saat ini. Dalam pendidikan STEM, keterampilan dan pengetahuan bidanng STEM digunakan secara bersamaan oleh peserta didik sehingga dapat meningkatkan kualitas SDM sehingga siap menghadapi dunia usaha/industri.

Apa itu STEM?

STEM bermula dari SMET, singkatan dari sciene, mathematics, engineering, technology. Pada 1990-an, National Science Foundation (NSF) menciptakan istilah tersebut untuk menekankan pentingnya empat disiplin ilmu yang berbeda itu. Akronim SMET diubah menjadi STEM untuk membantu mempromosikannya. Akan tetapi, masih banyak orang Amerika yang mengaitkan STEM dengan penelitian sel induk. Hal ini  bisa menjadi masalah bagi orang tua karena harus sepenuhnya menyadarkan akan pengaruh jenis-jenis itu terhadap perkembangan anak. Bahkan banyak pendidik yang belum jelas apa itu pendidikan STEM. Nasional Science Foundation menjelaskan bahwa pendidikan STEM adalah tentang pentingnya menggabungkan keempat disiplin ilmu tersebut dalam komunitas pendidikan dan masyarakat luas. Akronimnya nampak ambigu, karena para pendidik menggunakannya untuk menggambarkan keterkaitan yang melekat antara empat disiplin ilmu, serta membuat kurikulum dan pedagogi yang menghubungkan empat disiplin ilmu secara bersama dalam satu ruang kelas. Di bawah ini adalah beberapa cara yang mungkin bisa digunakan untuk memahami STEM :

  • Ø    Sciene, mathematics, engineering, technology adalah bidang yang harus dikuasai oleh banyak pekerja di Amerika Serikat untuk menghadapi persaingan pasar global di masa depan.
  • Ø  Sciene, mathematics, engineering, technology secara inheren terkait dan karenanya akan menguntungkan bagi peserta didik untuk memiliki proyek nyata yang menjelaskan dan memanfaatkan keterkaitan empat bidang tersebut.
  • Ø  Tingkat pemahaman yang tinggi tentang bidang sciene, mathematics, engineering, technology adalah sumber pengetahuan penting untuk semua warga negara di masa depan, terutama bagi minoritas dan kelompok yang tidak memiliki akses masuk ke dalam empat bidang tersebut sehingga akan menghambat kemampuan mereka untuk menemukan pekerjaan yang memuaskan.
Ketiga argumen di atas lazim ada di sebagian besar dokumen kebijakan STEM. Pendidikan STEM ingin menjadikan seseorang dapat memenuhi kebutuhan pekerjaan yang dihadapi. Selanjutnya, Pendidikan STEM ingin menghasilkan seseorang yang semakin terampil masuk ke bidang teknologi untuk membantu bangsa bersaing menghadapi pasar ekonomi. Selain itu, memahami keterkaitan bidang STEM dapat meningkatkan pengajaran dan mampu mempelajari bidang STEM yang secara tradisional sulit. Pada akhirnya, pendidikan STEM membantu seseorang mendapatkan pekerjaan yang layak dan menjadi warga negara yang baik.

Secara umum, STEM memiliki dua tujuan utama yaitu tujuan di tingkat makro dan mikro. Di tingkat makro, sebagai pilar untuk memperkuat epistemologis dan kemajuan pragmatis dalam teknologi dan teknik bahwa negara butuh kedua bidang tersebut agar tetap kompetitif secara ekonomi di tingkat global. Pada tingkat mikro, agar setiap peserta didik memahami hubungan interdisipliner, tujuan, dan teknik yang ada pada kurikulum STEM, serta peserta didik menjadi kritis dan melek pada bidang STEM sehingga mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan harapannya.
           
Publiser : Alimmustofa.com