Ribuan Mahasiswa Pindah Coblos ke Malang | Alim Mustofa
Cari Berita

Advertisement

Ribuan Mahasiswa Pindah Coblos ke Malang

Alim Mustofa
Sabtu, 30 Desember 2017

AliMustofa - Sedikitnya 2.000 mahasiswa dari luar daerah menyatakan berpindah tempat pencoblosan ke Kota Malang, Jawa Timur, sebab mereka tidak akan pulang kampung pada hari pemilu legislatif 9 April 2014.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Malang Alim Mustofa, Minggu, mengatakan, mereka dari berbagai kampus dan setiap harinya rata-rata ada 200 mahasiswa yang mengajukan pindah tempat pencoblosan.

"Caranya juga mudah, yakni datang ke kantor KPU dengan membawa KTP asli bagi warga umum atau kartu tanda mahasiswa (KTM) bagi mahasiswa," katanya.

Setelah mendaftar, lanjutnya, mereka akan mendapatkan formulir A5 sebagi bukti sudah lapor untuk pindah pilih dan mereka akan diberitahu di tempat pemungutan suara (TPS) mana mereka akan mencoblos.

Jika pada saat pencoblosan para pemilih yang migrasi ini, katanya, masih tetap bisa datang ke TPS dengan membawa formulir A5.

Alim menjelaskan mahasiswa yang mengajukan pindah coblos (migrasi) itu rata-rata datang ke KPU secara berkelompok dan semua bukan warga Kota Malang, tapi sudah punya hak pilih.

Sementara itu Ketua KPU Kota Malang Hendry ST menegaskan selain membawa KTP dan KTM, yang paling penting mereka menandatangani pernyataan mau memilih di Kota Malang dan menyatakan tidak dimobilisasi pihak tertentu.

"Jangan sampai dibalik tingginya minat mereka dalam pemilu legislatif (pileg) ternyata ada pihak-pihak yang menggerahkan mereka, misalnya, ada calon legislatif (caleg) tertentu yang memaksa mereka atau membeli suara mereka," tegas Hendry.

Untuk memastikan pihak yang mengajukan pindah mencoblos, kata Hendry, KPU memeriksa berdasarkan daftar pemilih tetap (DPT) "online". Jika nama mereka tercantum dalam DPT, KPU langsung meloloskan permohonan mereka.

Dari lima daerah pemilihan (dapil) di Kota Malang, dapil Lowokwaru yang paling banyak pemilih pindahan karena di Lowokwaru paling banyak dihuni mahasiswa, sebab di dapil tersebut banyak berdiri perguruan tinggi negeri dan swasta. "Sebenarnya dapil lain juga ada, tapi tidak sebanyak yang dari Lowokwaru," ujarnya.

Sumber: www.republika.co.id