Pendidikan Literasi Digital Untuk Menyongsong Pemilihan Serentak 2020 | Alim Mustofa
Cari Berita

Advertisement

Pendidikan Literasi Digital Untuk Menyongsong Pemilihan Serentak 2020

Sabtu, 14 Desember 2019

Oleh: Dr.Nofi Sri Utami, S.Pd.,S.H.,M.H
Dosen PascaSarjana Universitas Islam Malang 


Alimmustofa.com - Saat ini dunia telah terkoneksi dengan teknologi informasi. Pertumbuhan tekhnologi informasi, memungkinkan pergeseran perilaku masyarakat. Masyarakat akan semakin mudah dalam mengakses suatu berita/info, serta masyarakat menjadi kreatif, hal tersebut merupakan bagian sisi positif dari pertumbuhan tekhnologi. Pertumbuhan tekhnologi harus dibarengi dengan kecerdasan bermedia, untuk  menganalisa data dan konten yang ada. kecerdasan bermedia saat ini sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan tekhnologi internet. Tentunya cerdas disini adalah seseorang bisa memilih dan memilah berita/informasi yang di dapat dari internet dengan mencari tau dulu kebenaranya.Mengingat bahwa pertumbuhan tekhnologi tidak hanya memunculkan sisi positifnya melainkan juga sisi negatif. Misalnya adanya munculnya berita yang dianggap berita fitnah dan maraknya  konten-konten hoax di media sosial. Hoak merupakan kebohongan yang sengaja dibuat untuk dijadikan sebagai kebenaran. Dalam hal berita hoak dampaknya sangat luar biasa khususnya menjelang pelaksanaan pemilu serentak 2019. Pada pemilu Serentak 2019 menghadirkan lima pemilihan sekaligus mulai dari Presiden-Wakil Presiden, DPR RI, DPRD Provinsi dan Kabupaten/kota, dan DPD RI.
Pelaksanaan pemilihan yang dilakukan secara bersama dan serentak tentunya banyak persoalan yang muncul dalam tahapan pemilihan, misalnya kasus Hoak.  Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi Dan Informatika telah mengidentifikasi sebanyak 771 hoaks sepanjang Agustus 2018 hingga Februari 2019. Angka ini terus meningkat hingga hari pemilihan 17 April 2019. Hoaks atau fake news telah menjadi fenomena luar biasa. hoaks sangat mudah sekali tersebar. Tersebarnya berita hoax karena berita tersebut didapatkan dari orang yang dipercaya, mengira bermanfaat, mengira benar, dan ingin dianggap jadi yang pertama tahu, sehingga sesegera mungkin dishare tanpa mengecek kebenaranya. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh rendahnya tingkat literasi kita terutama literasi digital. Menurut data UNESCO yang dikutip oleh Kominfo menyebutkan bahwa minat baca orang Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, jika ada 1.000 orang Indonesia berkumpul hanya 1 orang yang rajin membaca. Padahal, kemampuan ini krusial di era serba cepat sekarang. Termasuk literasi digital, yang merupakan kemampuan untuk mengolah memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital. Jika dirunut lebih jauh, kurangnya literasi di masyarakat ialah tidak terbiasa untuk berpikir kritis. Hal ini disebabkan oleh pendidikan di Indonesia juga tidak memberikan ruang untuk kita mengasah kemampuan berpikir kritis. Selanjutnya Menurut direktur Perludem Titi Anggraeni, yang tayang di kompas setidaknya ada tiga faktor yang membuat munculnya hoax di media sosial yaitu, (1) regulasi yang belum menjangkau pemberantasan hoax dikarenakan adanya disparitas pemaknaan penegakan hukum, (2) pembiaran yang dilakukan oleh pasangan calon, dan (3) lambannya respons dari lembaga penyelenggara pemilu. Hoak yang telah terjadi pada pemilu serentak 2019 tentunya meninggalkan kesan yang mendalam dan tentunya menjadikan pelajaran untuk pemilihan serentak yang akan datang.
Berkaca dari hal tersebut, Maka Masyarakat harus bisa memahami bahwa hoaks berbahaya bagi masa depan bangsa kita, namun itu saja tidak cukup. berita bohong atau hoax tak ubahnya seperti peredaran narkotik dan pornografi. Bila berita hoak dibiarkan bisa membahayakan dan merugikan masyarakat. Maka masyarakat juga harus memiliki kemampuan memilah dan memilih mana berita yang benar dan mana yang keliru. Kegiatan literasi digital harus dilakukan dengan melibatkan banyak pihak, ini bukan kewajiban pemerintah saja, namun masyarakat juga memiliki peran yang banyak, Khususnya kaum milenial. Masyarakat harus bijak mengidentifikasi sebuah berita/info yang didapat, apakah berita tersebut benar benar bermanfaat. Selanjutnya setelah yakin berita tersebut bermanfaat, memastikan apakah berita tersebut berkualitas/ sesuai dengan kebenaranya. Tak lupa untuk mengecek alamat link/sumbernya yang tertera harus jelas. Kalo hal tersebut sudah anda lakukan, tentunya anda bisa memastikan bahwa berita tersebut bukan berita yang abal abal/ hoak. Sudah cukup kita belajar dan berkaca pada pemilu serentak 2019 terkait hoak, untuk menyongsong pemilihan serentak 2020 kita harus lebih bijak dan cerdas dalam memanfaatkan media digital yang kita miliki. Pendidikan Literasi digital merupakan cara atau upaya yang harus di lakukan/ diajarkan  kepada seluruh masyarakat indonesia Untuk mewujudkan Pemilu di Indonesia yang nyaman, berkualitas serta mencerdaskan masyarakat.


Editor    : alimmustofa
Publiser : Alimmustofa.com