Tidak Punya Biaya, Mundur dari Pencalegan | Alim Mustofa
Cari Berita

Advertisement

Tidak Punya Biaya, Mundur dari Pencalegan

Alim Mustofa
Senin, 01 Januari 2018

AlimMustofa.com - Saat banyak orang berlomba-lomba mendaftarkan diri untuk mendapat nomor pendaftatan caleg di partai peserta pemilu dengan biaya ini dan itu, Isyantoyo SH (36) -alumnus Sekolah Demokrasi angkatan kedua- justru mengundurkan diri dari pencalegan Partai Demokrat. Padahal ia telah mengantongi nomor urut tiga di Dapil I Kabupaten Malang dengan alokasi delapan kursi. Akhirnya, Isyanto harus merelakan nomer urutnya ditempati rekan separtainya yang memiliki sumber dana yang lebih memadai.

Kota Kepanjen sangat ramai di hari Minggu 17 Mei lalu. Aktivitas pedagang di Pasar Besar Kepanjen yang menjadi kebanggaan warga Kabupaten Malang tampak ramai dikunjungi pembeli. Beberapa mobil angkutan kota terlihat ngetem menunggu penumpang yang membutuhkan jasa mereka. Hiruk-pikuk kendaraan lalu lalang di depan pasar. Suasana semakin ramai karena ditingkahi tiupan peluit sang tukang parkir. Setelah melewati gaduhnya pasar, tibalah saya di sebuah jalan yang menjadi pintu utama Markas Zeni Tempur V Angkatan Darat.  Laju sepeda saya perlambat. Setelah yakin bahwa jalan yang saya lalui tidak salah, perjalanan saya teruskan dengan menyusuri jalan aspal menembus hamparan sawah yang memasuki musim tanam. Tidak lama tibalah saya di Desa Kemiri. Sama sekali tidak sulit mencari rumah Isyantoyo. Hanya dengan dua kali bertanya, saya langsung bisa menemukan rumah yang saya tuju. Karena jelas, umumnya kekerabatan antarwarga terjalin dengan baik, meski jarak satu rumah dengan rumah lain terkadang cukup berjauhan.

Kesan sederhana cukup melekat di sosok pria asal Desa Kemiri Kabupaten Malang ini. Saat saya temui ia tengah mengenakan jaket berwarna gelap dengan kaos Partai Demokrat. Jabatannya sebagai Sekretaris DPC Partai Demokrat Kabupaten Malang tidak lantas membuatnya gengsi atau malu untuk beraktifitas sebagai petani, sambil terus berupaya memperoleh pekerjaan yang lebih mapan. Ketika saya berkunjung ke rumahnya yang berada cukup jauh dari keramaian Kota Kepanjen, ia baru saja kembali dari sawah untuk menyemai benih padi. Kaos partai dan celana pendek yang ia kenakan tampak masih berlumuran lumpur sampai. Satu hal yang menandakan bahwa ia mengerjakan sendiri pekerjaan di sawah.

Sesaat setelah menungu di ruang tamu yang cukup luas, saya duduk di sebuah kursi busa berwarna coklat tua. Foto keluarga yang menempel di dinding sebelah barat tampak serasi berpadu dengan kaligrafi dan vas bunga di bagian bawah. Lama tidak bertemu, kami langsung menanyakan kabar masing-masing. Setelah lulus dari Sekolah Demokrasi akhir 2007 lalu, kami yang kebetulan seangkatan tidak pernah lagi bertemu karena sibuk dengan urusan masing-masing. Saya lantas menanyakan hasil pencalegan pada pemilu yang baru saja usai. "Enggak jadi. Enggak jadi nyaleg (menjadi caleg)," buru-buru Isyantoyo menjawab.

Di pemilu lalu, ia berada di nomor urut tiga di Dapil I yang meliputi Kecamatan Kepanjen, Kecamatan Gondan Legi, Kecamatan Pegelaran, Kecamatan Bulu Lawang dan Kecamatan Tajinan dengan alokasi delapan kursi. Posisinya sebagai Sekretaris DPC Partai Demokrat, seharusnya bisa menjadi modal strategis untuk merebut dukungan publik. Namun, ia memutuskan untuk munduru teratur, karena tidak tersedianya biaya yang memadai untuk mendukung kampanyenya. Untuk kampanye yang sederhana seperti seperti membuat spanduk dan sebagainya, seorang caleg harus menyediakan dana sedikitnya lima puluh juta rupiah. Sebuah angka yang amat besar bagi Isyantoyo yang mengandalkan hasil bertani saja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga yang baru dibinanya.

Sebenarnya modal sosial yang dimiliki pria alumnus Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang ini cukup besar. Di samping menjabat sebagai Sekretaris DPC Partai Demokrat, ia juga menjabat sebagai sekretaris Kelompok Tani Kelurahan Kemiri. Proses yang dijalani Isyantoyo untuk mendaftarkan diri sebagai caleg sebenarnya sudah sampai tahap akhir. Semua proses mulai dari pengambilan formulir, tes kesehatan, mengurus surat keterangan dari kepolisian maupun dari pengadilan sudah ditempuhnya, hingga nomor urut tiga pun berhasil ia kantongi.

Namun, Isyantoyo yang juga aktif di Divisi Perburuhan Komunitas Malang untuk Demokrasi (Komdek) ini mempunyai perhitungan politik sendiri. Perebutan kursi dewan di lima kecamatan di Dapil I membutuhkan biaya yang  sangat besar. Dipicu dengan keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi yang memutuskan kursi diperoleh berdasarkan suara terbanyak, perebutan kursi di internal partai pun berlangsung cukup ketat. Agar dikenal masyarakat, setiap caleg harus banyak menemui masyarakat. Tentu bisa dibayangkan, bila seorang caleg setiap hari harus terjun langsung ke desa-desa yang merupakan daerah pemilihannya. Padahal, tiap kecamatan yang berada di Dapil I rata-rata terdiri dari 13 sampai 18 desa.

 Konsekuensi dari luasnya wilayah itu adalah besarnya biaya yang harus disediakan oleh setiap caleg. Mereka harus menyediakan dana penyediaan alat peraga kampanye seperti spanduk, kaos, topi, baliho, banner, kartu nama, stiker maupun leaflet membutuhkan dana yang sedikit. Kalau Kota Malang hanya memiliki lima kecamatan, dan menetapkan satu kecamatan dalam satu daerah pemilihan, di Kabupaten Malang ada 33 kecamatan. Sehingga Kabupaten Malang tak lain adalah wilayah terbesar di Jawa Timur.

Pertimbangan-pertimbangan di atas meneguhkan keyakinan politisi Partai Demokrat ini  memberikan nomor urut pencalegannya ke Samsul Arifin, Ketua PAC Demokrat di Kecamatan Bulu Lawang. Keputusan ini kiranya adalah langkah yang tepat. Terbukti, dari hasil perolehan suara di Dapil I Partai Demokrat hanya memperoleh satu kursi. Umumnya mereka dikalahkan para caleg incumbent yang lebih populer karena selama lima tahun terakhir sering mengadakan kunjungan kerja ke daerah pemilihannya. Isyantoyo merasa lega dengan keputusannya mundur dari pencalegan. Karena, kalau memaksakan diri maju akan mengalami kerugian fianansial yang tinggi seperti rekan penggantinya yang gagal memperoleh kursi dewan.

Di luar rumah hujan turun dengan lebatnya. Perbincangan ringan kami terus berlanjut ditemani kue yang dihidangkan ibu Isyantoyo. Pemilu kali ini dianggap Isyantoyo sebagai momentum pembelajaran. Pengalaman pertama di kancah politik ini akan dibuat untuk mempersiapkan pemilu tahun 2014. (Alim Mustofa, Malang)