Pegiat Budaya Jangan Tabu Terhadap Politik | Alim Mustofa
Cari Berita

Advertisement

Pegiat Budaya Jangan Tabu Terhadap Politik

Senin, 24 Desember 2018

AlimMustofa.com - Bawaslu Kota Malang dalam rangka mengajak masyarakat untuk mengenali pengawasan pemilu gandeng Sekolah Budaya Tunggulwulung (SBT) untuk menggerakan komunitas budaya dalam pengawasan partisipatif.

Menempati ruang pertunjukan SBT, dialog budaya dan pemilu dibuka dengan sambutan Kholik Nuryadi pemangku Sekolah Budaya. Dihadapan Nur Elya Anggraeni Anggota Bawaslu Jawa Timur dan Sofyan Edy Jarwoko Wakil Walikota Malang, Kholik menyampaikan.

"Seniman adalah obyek politik, dan pengahayat kepercayaan yang selama ini selalu menghindar dari hiruk pikuk politik dan persoalaan negara. Dengan adanya Bawaslu Kota Malang memberikan sosialisasi, membuat para penghayat menganggap perlu berpartisipasi menjaga nuswantara melalui pengawalan peralihan kekuasaan yang sah,” ungkap Kholik.

“Para seniman dan budayawan tidak boleh tabu dengan pengetahuan politik, hukum dan tata negara. Seniman harus berpartisipasi dalam membentuk pemerintahan yang bersih dari korupsi melalui sentuhan budaya di masyarakat. Oleh sebab itu seniman harus terlibat dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih diawali dari pemilu yang bersih,” lanjut Kholik.

Ratusan kepala peserta dan warga sekolah budaya menggangguk sebagai tanda setuju akan pendapat Pemangku Sekolah Budaya. Tepuk riuh peserta menambah semaraknya acara yang digelar malam hari yang berlokasi dipinggiran sebelah barat Kota dingin ini.

Seniman, budayawan dan pengahayat merasa sadar setelah mendapatkan informasi dari Bawaslu Kota Malang yang disampaikan pula oleh anggota Bawaslu Jawa Timur.

Nur Elya Anggraeni Anggota Bawaslu Jawa Timur menyampaikan rasa senang dan bangga bisa hadir diacara ini.

“Bagi saya ini adalah sesuatu hal yang berbeda, Bawaslu berupaya mengandeng atau peduli terhadap pegiat seni, pegiat budaya, dan pengahayat untuk bersama-sama mengawasi pemilu 2019. Sebab untuk menghasilkan pemimpin yang peduli ini tergantung kita, tergantung 3 (tiga) sampai 5 (menit) menit di TPS nanti, tetapi sebelum masuk TPS proses Panjang, ada tahapan kampanye, bagaimana kita memastikan peserta pemilu ini kampanye sesuai peraturan,” paparnya.

“Kami mengajak teman2 SBT ini untuk membuka hati begitu ya, kita berdialog apa sebetulnya bawaslu dan apa pentingnya mengawasi pemilu, nanti akan dibahas oleh Bawaslu Kota Malang,” terang Elya Koordiantor divisi Humas Bawaslu Jawa Tumur.

Dialog pemilu dalam bingkai budaya serasa kurang Panjang dan ingin sekali dilanjutkan . Tetapi akan lebih baik jika dengan adanya MoU (Memorandum of Understanding) ini, kita akan dapat membuat dialog antara pegiat seni budaya dengan pengawas pemilu, sambung pembawa acara dalam menutup sesi dialog.

Kebiasaan korupsi hampir menjadi tradisi, mungkin cara yang paling relevan melawan korupsi adalah dengan Budaya, tradisi dilawan dengan budaya. Inilah kesimpulan akhir dari dialog ini. (Alim/PHL)