JIKA RAGU-RAGU KELUAR AIR KENCING SETELAH MANDI | Alim Mustofa
Cari Berita

Advertisement

JIKA RAGU-RAGU KELUAR AIR KENCING SETELAH MANDI

Sabtu, 08 Februari 2020

Ustad Asep Hidayatuloh

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

Lanjutan Kajian Fiqih

Alimmustofa.com - Terkadang setiap kita/seseorang selesai mandi dan berpakaian merasakan ada air seni yang keluar sedikit, kita coba cek langsung susah utk membedakannya karena sehabis mandi suka ada air bekas mandi yang menempel jadi sulit untuk membedakannya, sehingga membuat kita/seseorang was was sampai saat ini. Apakah yang harus kita/seseorang lakukan untuk mengatasi hal seperti ini? Karena tidak mungkin  setiap kali selesai mandi dan berpakaian harus ganti / cuci kembali.

Kalau kita mengalami keraguan dalam hukum tentang masalah sesuci maka kebanyakan ulama menganjurkan mengambil pada hukum asal. Jadi kalau seperti kejadian yang dialami kita / seseorang itu hukum asal sudah suci, karena memang sudah bersuci dan diragukan oleh hal yang dialami seperti itu. Jadi kembali pada hukum asal yaitu sudah bersuci. Qaidah fiqihnya: al yaqin laa yazaalu bissyak

الاجتهاد لا ينقض بالاجتهاد

Hasil ijtihad lama tidak bisa dibatalkan dengan hasil ijtihad baru. Rumus fiqhnya : kalau ragu-ragu maka ambil hukum asal, ( ragu-ragu meneteskah? Atau tidak menetes, maka diambil kesimpulan tidak menetes, artinya hukumnya badan anda suci dan wudhu tidak batal). 

الطهر لايزال بالشك

Tapi kalau anda pribadi mengambil tindakan membersihkan lagi dan ganti pakaian lagi, maka itu adalah langkah yang lebih ihtiyath (الإحتياط) lebih berhati-hati, lebih selamat tentunya. Adapun saran Al-Faqir usahakan, tiap kali kebelet pipis, jangan ditahan-tahan, karena efek "menahan" yang sudah-sudah, menyebabkan pipanya bisa "menetes" bocor. Jangan menahan kencing. Kalau menahan kencing, biasanya nanti masih ada sisa air kencing yang keluar dari kemaluan. Biasanya waktu sujud, rukuk, duduk jongkok dan menekan selakangan

Ijtihad ini suci/najis yang dipakai adalah kesimpulan yang tingkat kebenarannya 75% keatas (zhann), bukan kemungkinan benarnya 25% (wahm). Diqiyaskan ke ijtihad mencari tong mana yang suci diantara dua tong air yang tertutup. Tong yang diduga suci karena tanda-tanda tertentu atau karena kebalikan dari tong najis, boleh dipakai bersuci. Sedangkan tong yang diduga najis karena tanda-tanda tertentu, tidak boleh dipakai.
Selama kesimpulan itu punya landasan, maka kesimpulan itu boleh diterapkan dan dilarang menerapkan sesuatu yang tidak sesuai kesimpulan. Kalau kesimpulan tadi diralat sendiri karena telah mendapatkan bukti yang meyakinkan (pasti), maka sholat yang tadi harus diulang memakai kesimpulan yang baru. Kalau kesimpulan lama diralat sendiri karena berubah pikiran / analisa, maka tidak perlu mengulang sholat yang tadi. Sekarang, dia harus menerapkan kesimpulan yang baru di sholatnya yang sekarang.

REFHERENSI :

الحاوي الكبير ج ١ ص ٣٤٨:

 (ﻓﺼﻞ) : ﻓﺄﻣﺎ ﺩﻻﺋﻞ اﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻬﻲ اﻷﻣﺎﺭاﺕ اﻟﺘﻲ ﻳﺴﺘﺪﺭﻙ ﺑﻬﺎ ﺣﺎﻝ اﻟﻨﺠﺎﺳﺔ، ﻭﻗﺪ ﺗﻜﻮﻥ ﺑﺄﺳﺒﺎﺏ ﻣﺨﺘﻠﻔﺔ ﻭﺟﻬﺎﺕ ﺷﺘﻰ، ﻓﻤﻨﻬﺎ ﺗﻐﻴﺮ ﺃﻭﺻﺎﻓﻪ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﺣﺮﻛﺔ اﻟﻤﺎء ﻭاﺿﻄﺮاﺑﻪ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﺁﺛﺎﺭ ﻧﺠﺎﺳﺘﻪ ﻟﻘﺮﺑﻪ، ﻭﻣﻨﻬﺎ اﻧﻜﺸﺎﻑ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ، ﻭﺗﻐﻄﻴﺔ ﻏﻴﺮﻩ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ اﻟﺪﻻﺋﻞ ﻭاﻷﻣﺎﺭاﺕ اﻟﺘﻲ ﻳﻐﻠﺐ ﻣﻌﻬﺎ ﻓﻲ اﻟﻨﻔﺲ ﻃﻬﺎﺭﺓ اﻟﻄﺎﻫﺮ ﻭﻧﺠﺎﺳﺔ اﻟﻨﺠﺲ، ﻓﻌﻠﻰ ﻫﺬا ﻳﺼﺢ اﺟﺘﻬﺎﺩ اﻷﻋﻤﻰ ﻓﻴﻬﺎ ﺑﻤﺎ ﻋﺪا ﺣﺎﺳﺔ اﻟﺒﺼﺮ ﻣﻦ اﻟﺮﻭاﺋﺢ، ﻭاﻟﻄﻌﻮﻡ ﻭﺳﻤﺎﻉ اﻟﺤﺮﻛﺔ، ﻭاﻻﺿﻄﺮاﺏ ﻻﺷﺘﺮاك اﻷﻋﻤﻰ ﻭاﻟﺒﺼﻴﺮ ﻓﻲ ﺇﺩﺭاﻛﻬﺎ ﺑﺎﻟﺤﺲ.
(ﻓﺼﻞ) : ﻓﺈﺫا ﺛﺒﺖ ﻣﺎ ﻭﺻﻔﻨﺎ ﻓﻼ ﻳﺨﻠﻮ ﺣﺎﻟﻪ ﺇﺫا اﺟﺘﻬﺪ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ ﺃﻣﺮﻳﻦ ﺇﻣﺎ ﺃﻥ ﻳﺘﻮﺻﻞ ﺑﺎﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﺇﻟﻰ ﻣﻌﺮﻓﺔ اﻟﻄﺎﻫﺮ ﻣﻦ اﻟﻨﺠﺲ ﺃﻡ ﻻ، ﻓﺈﻥ ﺗﻮﺻﻞ ﺑﺎﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﺇﻟﻰ ﻃﻬﺎﺭﺓ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ اﺳﺘﻌﻤﻠﻪ، ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﻮ ﺃﺭاﻕ اﻟﻨﺠﺲ ﻗﺒﻞ اﺳﺘﻌﻤﺎﻝ اﻟﻄﺎﻫﺮ ﻟﺌﻼ ﻳﻌﺎﺭﺿﻪ اﻟﺸﻚ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ ﺃﻭ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ اﻟﺨﻄﺄ ﻓﻲ اﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻪ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﻗﻪ ﻭاﺳﺘﻌﻤﻞ اﻟﻄﺎﻫﺮ ﺟﺎﺯ، ﻭﻟﻴﺲ ﻋﻠﻴﻪ اﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻟﺼﻼﺓ ﺃﺧﺮﻯ ﺑﺨﻼﻑ اﻟﻘﺒﻠﺔ ﻟﻤﺎ ﻧﺬﻛﺮﻩ ﻣﻦ اﻟﻔﺮﻕ ﻫﻨﺎﻙ،

الحاوي الكبير ج ١ ص ٣٤٩:

 (ﻓﺼﻞ) : ﻭﺇﺫا اﺳﺘﻌﻤﻞ ﺑﺎﺟﺘﻬﺎﺩﻩ ﻓﻲ اﻹﻧﺎءﻳﻦ ﻣﻦ ﻣﺎء ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺛﻢ ﺑﺎﻥ ﻟﻪ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﺎ اﺳﺘﻌﻤﻠﻪ، ﻭﻃﻬﺎﺭﺓ ﻣﺎ ﺗﺮﻛﻪ ﻻ ﻳﺨﻠﻮ ﺣﺎﻟﻪ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ ﺃﻣﺮﻳﻦ، ﺇﻣﺎ ﺃﻥ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﻟﻪ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ اﻟﻴﻘﻴﻦ، ﺃﻭ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ اﻻﺟﺘﻬﺎﺩ، ﻓﺈﻥ ﺑﺎﻥ ﻟﻪ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ اﻟﻴﻘﻴﻦ اﺟﺘﻨﺐ ﺑﺎﻗﻲ ﻣﺎ اﺳﺘﻌﻤﻠﻪ، ﻭﻛﺎﻥ ﻧﺠﺴﺎ، ﻭاﺳﺘﻌﻤﻞ اﻹﻧﺎء اﻵﺧﺮ، ﻭﻛﺎﻥ ﻃﺎﻫﺮا ﻭﻟﺰﻣﺘﻪ اﻹﻋﺎﺩﺓ ﻟﻤﺎ ﺻﻠﻰ ﺑﺎﻷﻭﻝ، ﻭﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺑﻪ اﻷﻭﻝ ﻣﻦ ﺑﺪﻧﻪ ﻭﺛﻴﺎﺑﻪ ﻭﺇﻥ ﺑﺎﻥ ﻟﻪ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﻃﺮﻳﻖ اﻻﺟﺘﻬﺎﺩ، ﻓﻘﺪ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ اﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻦ ﺳﺮﻳﺞ: ﻳﺠﺘﻨﺐ ﺑﻘﻴﺔ اﻷﻭﻝ، ﻭﻳﺴﺘﻌﻤﻞ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ اﻗﺘﻀﺎﻩ اﺟﺘﻬﺎﺩﻩ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻭﻻ ﻳﻌﻴﺪ ﻣﺎ ﺻﻠﻰ ﺑﺎﻷﻭﻝ؛ ﻷﻧﻬﺎ ﺻﻼﺓ ﻗﻀﻴﺖ ﺑﺎﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻼ ﺗﻨﻘﺾ ﺑﺎﺟﺘﻬﺎﺩ، ﻭﻣﺬﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺟﻤﻬﻮﺭ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻌﻤﻞ ﺑﻘﻴﺔ اﻷﻭﻝ، ﻻﻋﺘﻘﺎﺩﻩ ﻓﻲ اﻟﺤﺎﻝ ﺃﻧﻪ ﻧﺠﺲ، ﻭﻣﻦ اﻋﺘﻘﺪ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﺎء ﺣﺮﻡ اﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻪ ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻌﻤﻞ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ اﻟﺜﺎﻧﻲ، ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ اﻟﻌﺒﺎﺱ ﻟﻤﺎ ﻧﻔﺬ ﻣﻦ اﻟﺤﻜﻢ ﺑﻨﺠﺎﺳﺘﻪ، ﻭاﻟﺤﻜﻢ ﺇﺫا ﻧﻔﺬ ﺑﺎﺟﺘﻬﺎﺩ ﻟﻢ ﻳﻨﻘﺾ ﺑﻤﺜﻠﻪ، ﻭﻟﻮ ﺟﺎﺯ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ اﻻﺟﺘﻬﺎﺩ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻗﺪ ﻧﻘﺾ اﻟﺤﻜﻢ اﻷﻭﻝ ﻟﻠﺰﻣﻪ ﺇﻋﺎﺩﺓ ﻣﺎ ﺻﻠﻰ ﺑﺎﻷﻭﻝ ﻭﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺏ ﻣﻦ ﺛﻴﺎﺑﻪ ﻭﺑﺪﻧﻪ، ﻭﻫﻮ ﻻ ﻳﻘﻮﻝ ﻫﺬا ﻓﻌﻠﻢ ﺛﺒﻮﺕ اﻟﺤﻜﻢ اﻷﻭﻝ، ﻭﻟﻮ ﻟﺰﻣﻪ اﺳﺘﻌﻤﺎﻝ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻭﺗﺮﻙ ﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺏ اﻷﻭﻝ ﻣﻦ ﺑﺪﻧﻪ ﻟﻜﺎﻥ ﺣﺎﻣﻼ ﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻳﻘﻴﻦ ﻭﺫﻟﻚ ﻣﻤﻨﻮﻉ ﻣﻨﻪ. ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ ﺑﺎﻟﺼﻮاب

روضة الطالبين

فرع: من القواعد التي يبنى عليها كثير من الأحكام ، استصحاب حكم اليقين ، والإعراض عن الشك ، فلو تيقن الطهارة ، وشك في الحدث ، أو عكسه ، عمل باليقين فيهما . ولو ظن الحدث بعد يقين الطهارة ، فكالشك ، فله الصلاة .

حاشية البجيرمي على الخطيب
{ اشتكى إلى النبي صلىالله عليه وسلم الذي يخيل إليه أنه يجد الشيء في الصلاة . قال : لا ينصرف حتى يسمع صوتا أو يجد ريحا } . والمراد العلم بخروجه لا سمعه ولا شمه ، وليس المراد حصر الناقض في الصوت والريح بل نفي وجوب الوضوء بالشك في خروج الريح ، ويقاس بما في الآية والأخبار كل خارج مما ذكر ، وإن لم تدفعه الطبيعة كعود خرج من الفرج بعد أن دخل فيه .


والله أعلم بالصواب وإليه المرجع والمآب


Al-Faqir Asep Hidayatulloh

Editor : Alim Mustofa