Cerpen: Ndaru | Alim Mustofa
Cari Berita

Advertisement

Cerpen: Ndaru

Alim Mustofa
Kamis, 07 Juni 2018

AlimMustofa.com - Sejak pagi mereka membicarakan cahaya jatuh dari langit; sejak mereka membuka mata dan kotorannyanya masih menempel di ekor mata; menjadi seru ketika ibu-ibu bergerombol di penjual sayur keliling, semakin ramai ketika petani, pedagang, tukang ojek, dan kuli bangunan singgah di warung kopi Mak Sanah; semakin yakin ketika mereka sudah mulai masuk kolong- kolong rumahnya. Ndaru, cahaya jatuh itu, telah jatuh di selatan, pertanda isyarat menganjurkan setiap penduduk desa Kaligaring menetapkan diri untuk memilih calon dari selatan.


Desa Kaligaring terbelah menjadi dua dusun oleh sungai yang tak pernah berair selain musim hujan. Sungai itu diberi nama Kaligaring, julukan yang menjelaskan keadaan sungai itu, kali artinya sungai garing artinya kering, kali garing artinya sungai kering. Oleh nenek moyang nama sungai itu dipakai untuk menamai desanya. Waktu dibentuk dusun cukup dua saja; dusun sebelah selatan dinamai Kaligaring Kidul, dusun utara dijuluki Kaligaring Lor.

Sepanjang sejarahnya, kepala desa yang memimpin desa ini, tidak selalu dari Kaligaring Lor atau sebaliknya dari Kaligaring Kidul. Suatu saat dari Kaligaring Lor, pada periode yang lain dari Kaligaring Kidul. Warganya tidak terlalu fanatik memilih kepala desa. Warga Kaligaring Lor tidak selalu memilih calon dari Kaligaring Lor, sebaliknya yang tinggal di Kaligaring Kidul tidak selalu memilih calon yang berumah di Kaligaring Kidul. Mereka akan berduyun-duyun memilih calon kalau sudah mendapat isyarat cahaya di tengah malam itu, jatuh di belahan desa sebelah mana.

Sekalipun suatu periode tidak ada calon kepala desa dari Kaligaring Kidul, warga desa Kaligaring tidak kebingungan. Mereka akan mencari tanda cahaya jatuh di belahan timur atau barat. Kalaupun cahaya jatuh di dusun Kaligaring Kidul, mereka akan memperjelas jatuhnya cahaya itu di Kaligaring Kidul belahan barat atau belahan timur.

Mereka tidak menilai calon kepala desa. Tidak peduli apakah calon itu dari golongan santri, ataupun bekas bromocorah. Watak tidak penting. Apakah mereka seorang alim santun, ataukah brangasan, bengis, dan kejam. Pernah ada calon kepala desa dari golongan orang yang disegani. Hampir setiap malam, pada saat jagong calon, yang mendukung datang berduyun-duyun. Rumah calon itu tidak cukup untuk diisi mereka yang menyatakan simpati. Meluber ke halaman rumah, halamannya tidak muat. Sampai ke pinggir jalan, trotoarnya tidak cukup untuk orang duduk- duduk. Ada yang membantu menyewakan tenda untuk didirikan di tengah jalan. Jalan ditutup, diisi kursi-kursi sewaan.

Cahaya malam tidak jatuh kepadanya, tetapi jatuh ke lawannya. Waktu pemilihan esok harinya, ia kalah telak. Mereka tidak heran. “Mau bagaimana lagi. Isyaratnya begitu.” kata mereka bergumam.

Kali ini, cahaya jatuh dua hari sebelum pemilihan kepala desa. Mereka sudah memastikan pemenangnya adalah calon kepala desa dari Kaligaring Kidul. Tidak demikian halnya dengan Bagas, pemuda desa yang usianya masih 22 tahun. Ia tidak sepakat kalau yang terpilih menjadi kepala desa Kaligaring berasal dari dusun Kaligaring Kidul. Ia mengetahui dalam pemilihan ini calon dari Kaligaring Kidul menggunakan permainan uang. Calon ini telah menyumbang pembangunan tempat ibadah di seluruh desa. Ia juga telah memberikan sembako kepada orang- orang janda dan warga miskin.

“Kalau ikhlas, tanpa pamrih, itu perbuatan baik. Bahkan sangat baik. Tapi kalau diikuti permintaan untuk memilih dirinya waktu pemilihan kepala desa, itu politik uang.” katanya.

Bagas juga mengatakan kepada orang-orang yang ditemui, kalau merebut kekuasaan dengan uang bisa diduga ia akan mencari kembali modalnya dengan menggunakan kekuasaannya. Apalagi modal itu diperolehnya dengan pinjaman dari bandar. Kalau ia menjual semua hartanya, sawah, rumah, atau mungkin simpanan perhiasan, tak akan pernah cukup. Lalu apa yang dipakai untuk menutup hutangnya? Sudah pasti menyewakan aset desa, atau bahkan menjual secara ilegal. Sekarang, ketika ada dana desa dari pemerintah, matanya akan tertutup, mata hatinya akan buram. Adakah para bandar yang mengeluarkan uangnya cuma-cuma?

Bagas menolak keras. Bagas berpikir keras. Bagas berupaya keras, gerilya dan terang- terangan mempengaruhi calon pemilih kepala desa. Tapi, mereka menganggap Bagas sudah gila. Mereka tidak mau mendengar anjuran Bagas. Omongan Bagas dianggap angin lalu.

Mereka pun menyiapkan pesta besar menyambut kemenangan di rumah calon Kaligaring Kidul. Semenjak sore orang-oran Kaligaring Lor berduyun-duyun ke rumah calon di dusun Kaligaring Kidul. Mereka membawa makanan kue dan bahan sembako, disumbangkan pada tuan rumah untuk dihidangkan kepada pengunjung. Kesenian kuda lumping sudah dimainkan sejak sore hari. Suara musiknya mengundang anak-anak dan ibu-ibu. Juga mengundang pedagang kaki lima. Mereka membuka lapaknya berderet sepanjang jalan.

Ketika malam mulai merangkak, dusun Kaligaring Lor terasa sunyi. Angin melintas menjadi terasa sapuannya. Suara gamelan dari Kaligaring Kidul terdengar seperti menyayat Bagas. Saat sendirian, hanya bersama ketenangan Kaligaring Lor, saat Bagas hampir putus asa, terbersit dalam pikirannya untuk memunculkan kembali cahaya jatuh.

Tetapi, idenya itu semakin membuat benaknya keruh. Sempat terpikirkan untuk melontarkan isu belaka tentang cahaya jatuh lagi pada malam hari ini. Ia tidak menemukan jalan terang, justru semakin merumitkan pikirannya. Ia amat ragu, bagaimana kalau mereka mengejar dengan pertanyaan; dimana jatuhnya? Kapan? Apa buktinya? Ada saksinya? Bagas melenguhkan kekesalannya, sambil merebahkan tubuhnya di teras pos ronda.

Bagas terlentang. Matanya menatap bintang-bintang yang berkedip di angkasa kelam. Sisa orion di akhir Maret membentuk waluku. “Jatuhlah si pemburu, ke pangkuanku agar ngeri masa depan jera di kekhawatiranku.” gumamnya.

Saat Bagas bergumam, Karjo menghampirinya. Karjo si anak Pak Karim itu mendengar gumaman Bagas.
“Hanya mimpi kalau berharap bintang jatuh pada waktu yang begitu sempit.” pungkasnya. “Hm. Kamu pilih selatan.”
“Riang riak menutup peka. Sunyi kelam memetik terang. Kita cipta fatamorgana, kawan.” Karjo yang sehari-hari suka berdendang. Ia, pendukung selatan telah berbalik arah.
Bagas bangkit terduduk. “Jadi?”
Karjo mengajak Bagas ke pekarangan milik ayahnya, Pak Karim. Pekarangan yang ada di paling ujung utara Kaligaring Lor. Mereka merencanakan fatamorgana. Melakukan muslihat tentang cahaya jatuh. Mereka rancang agar akal orang-orang yang akan memilih kepala desa terkelabui.

Jam dua dini hari. Bagas dan Karjo menyalakan api unggun diantara rumpun bambu. Angin yang tidak mereka duga bertiup kencang. Api yang membara membumbung tinggi ke angkasa. Langit sekitar terang benderang beberapa saat. Hanya beberapa saat. Cukuplah mengesankan ada cahaya di langit di belahan utara desa Kaligaring.

Pendukung calon selatan sudah kelelahan berpesta. Mereka ada yang tiduran di teras-teras rumah. Saat mereka mengkhayal ramai desanya esok hari, ada diantara mereka melihat cahaya di langit di belahan Kaligaring utara. Ia berteriak, “Ndaru!”

Teriakannya mengagetkan orang-orang disekitarnya. Mereka membicarakan, menengok ke langit sebelah utara, memastikan ada cahaya jatuh malam itu. Saat perdebatan itu masih simpang siur, Karjo datang terengah-engah. Ia telah berlari antara utara dan selatan, mengejar waktu untuk mengabarkan. Dan, ia merasa tepat waktu. Ia memberi kabar meyakinkan, dengan cerita yang dikongkritkan: rumahnya hampir terbakar cahaya jatuh dari langit.

Mereka membenahi sarung, menata sandal, berduyun-duyun ke utara. Di sekitar rumah Pak Karim telah banyak orang. Mereka juga membicarakan cahaya jatuh dari langit. Mereka juga telah menjamah rumpun bambu yang masih panas, bekas terbakar. Mereka juga telah menyimpulkan cahaya jatuh dari langit benar-benar ada, telah membakar rumpun bambu.

Pagi harinya, sebelum para pemilih itu berangkat ke bilik suara, tempat pemilihan kepala desa, mereka menyempatkan untuk mengagumi rumpun bambu yang terbakar oleh cahaya dari langit. Dari pekarangan Pak Karim mereka menjenguk rumah calon dari Kaligaring Lor. Rute yang mirip ritual, menandakan pilihan itu jatuh ke calon dari Kaligaring Lor.

Bagas duduk bergerombol di pos ronda. Wajahnya mencerminkan kepuasan. Tak terbersit lagi kekhawatiran, desanya akan dirampok oleh pimpinannya. Ia yakin, karena calon Kaligaring Lor tidak banyak mengeluarkan biaya untuk menjadi kepala desa.

Kepuasan Bagas terjawab. Usai pemilihan, calon Kaligaring Lor menang telak. Tetapi, ia terperangah. Tidak lama pemilihan itu ditutup, di depan matanya berbaris orang- orang luar desa memboyong harta dari orang-orang di desanya. Ada yang menuntun sapi, kambing, menggendong ayam, hasil pertanian, delman, motor, mungkin juga uang yang tersimpan di dalam tas. Mereka adalah penjudi luar desa yang telah menguras harta penjudi dari desa Kaligaring.

Bagas menghela nafas panjang. “Politik dan judi bersekutu. Penuh muslihat. Menjadi fatamorgana.” gumamnya. Lantas, ia menutup wajahnya dengan kedua telapaknya.

*) Penulis belajar menulis cerpen kepada almarhumah Ratna Indraswari Ibrahim. Sekarang bergiat di Komunitas Belajar Menulis (KOBIS) “Merajut Sastra” di Malang. 16 Desember 2016 diundang membaca cerpen pada acara Jawa Timur Art Forum Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT). Kumpulan cerpennya “Si Jujur Mati di Desa Ini” terbit bulan Mei 2017.

Penulis: Iman Suwongso
Editor: A-Liem Tan
Publisher: AamNh7